Thursday, October 8, 2009

SENI TARI SUNDA

PENGERTIAN SENI TARI
OLEH ADE NANA

Sebelum menjelaskan tentang pengertian seni tari, ada baiknya kita tinjau kembali tentang pemahaman kebudayaan dan kesenian yang telah dipelajari di kelas I semester 1, sehingga akan terlihat letak posisi seni tari sebagai bagian dari kesenian dan kesenian bagian dari kebudayaan.

Apa kebudayaan?
Koentjaraningrat dalam bukunya “Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan” menyampaikan pemahaman tentang isi kebudayaan secara sempit, yaitu “Pikiran, karya dan hasil karya manusia yang memenuhi hasratnya akan keindahan. Dengan singkat: kebudayaan adalah kesenian”. Tentunya pemahaman seperti ini terlampau sempit apabila dibandingkan dengan arti kata kebudayaan itu sendiri. Kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta “Buddhayah” yang merupakan bentuk jamak dari kata “buddhi” yang berarti budi atau akal. Kalau kebudayaan diartikan budi atau akal, maka sangat luas yang dihasilkan dari budi/akal manusia untuk memenuhi tuntutan hidupnya. Kebudayaan perkembangan dari kata majemuk budi – daya artinya daya dari budi, kekuatan dari akal. Karena demikian luasnya Kuntjaraningrat menjelaskan tentang unsur-unsur kebudayaan yang universal yang merupakan isi dari semua kebudayaan di dunia ini, adalah:
1. Sistem religi dan upacara keagamaan,
2. Sistem dan organisasi kemasyarakatan,
3. Sistem pengetahuan,
4. Bahasa,
5. Kesenian,
6. Sistem mata pencaharian hidup,
7. Sistem teknologi dan peralatan.
Kalau melihat unsur-unsur isi kebudayaan yang universal, maka pemahaman tentang kebudayaan sangat luas, mencakup seluruh kebutuhan kehidupan manusia. Sehingga Koentjaraningrat mendefinisikan kebudayaan:“keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya”. Kemudian ada pula yang mendefinisikan kebudayaan adalah “Totalitas usaha manusia untuk mencapai kesejahteraannya yang lebih”. Definisi ini menunjukan pula pemahaman tentang kebudayaan yang sangat luas/universal. Dari ke tujuh unsur isi kebudayaan, kesenian merupakan salah satu unsurnya. Sehingga apabila kebudayaan diartikan sama dengan kesenian terasa terlampau sempit, walaupun dalam kenyataannya sesuai dengan sudut pandang masing-masing, pengertian kebudayaan yang sempit ini banyak dipergunakan masyarakat.

Apa kesenian?
Pada pemahaman kebudayaan secara luas, kesenian merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. Sangat banyak para ahli mengungkapkan pemahaman tentang kesenian, yang disebabkan oleh titik berat dan arah pandang yang bermacam-macam pula, yaitu “karya seni”, “proses penciptaan karya seni” dan “kegiatan penghayatan seni” (Melvin Rader). Namun para ahli estetika sependapat bahwa seni sebagai proses penciptaan merupakan suatu ungkapan yang timbul dari suasana hati, perasaan, dan jiwa. Dari kesepakatan ini ada dua hal yang bisa dicatat; pertama bahwa seni adalah “ungkapan” (ekspresi) dan yang kedua, adalah “jiwa, perasaan dan suasana hati yang diungkapkan” (E.F.Carrit). Seni bukanlah ungkapan benda atau gagasan belaka, melainkan ungkapan pengalaman nyata beserta nilai-nilainya dan bersipat pribadi. Seni adalah pengalaman dalam bentuk medium indrawi yang menarik dan ditata dengan rapi, yang diwujudkan untuk di komunikasikan dan direnungkan. Seni adalah karya manusia yang dapat menimbulkan rasa senang dalam rohani kita. Herbert Read dalam bukunya Pengertian Seni yang diterjemahkan oleh Soedarso SP mengungkapkan “secara sederhana seni adalah suatu usaha untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan. Bentuk yang sedemikian itu memuaskan kesadaran keindahan kita dan rasa indah ini terpenuhi bila kita menemukan kesatuan atau harmoni dari hubungan bentuk-bentuk yang kita amati itu.” Keindahan adalah sesuatu yang dapat menimbulkan rasa senang dan seni adalah keindahan.

Dari beberapa pemahaman tentang kesenian yang telah diungkapkan diatas, apa yang di ekspresikan/diungkapkan yang timbul dari suasana hati, perasaan, pikiran dan jiwa, tentunya dikarenakan ini adalah ungkapan seni maka apapun yang diungkapkan/diekspresikan tujuannya untuk menimbulkan rasa senang/indah bagi seniman dan apresiatornya.
Ekspresi karya seni diwujudkan oleh seniman berdasarkan kepada kecakapan yang dimiliki oleh seniman itu sendiri, dan kecakapan seniman adalah kemampuan/ penguasaan keterampilan yang akan menjadi media ungkapnya. Oleh karena itu melalui beragamnya dasar keterampilan yang dimiliki oleh seniman, menimbulkan kekayaan/keanekaragaman bentuk/jenis kesenian yang dihasilkannya. Dasar keterampilan/kecakapan yang dimiliki oleh seniman sekaligus memberikan spesifikasi yang membedakan diantara jenis-jenis kesenian. Yang dimaksud dengan dasar keterampilan yaitu kecakapan seniman dalam menggunakan keahliannya sebagai media ungkap karya seni, dan media ungkap inilah yang membedakan diantara bentuk/jenis kesenian.

Ditinjau dari dasar keterampilan seniman untuk mengekspresikan karya seninya, media ungkap yang dipergunakan pada dasarnya terdiri dari:
NO.
MEDIA UNGKAP
BENTUK SENI
1.
Suara
Musik/Karawitan
2.
Bahasa
Sastra
3.
Ceritera
Drama/teater
4
Bentuk-garis-warna
Rupa
5
Gerak
Tari

Media ungkap inilah yang merupakan substansi dalam mewujudkan bentuk-bentuk kesenian, dan tari merupakan salah satunya. Dengan demikian maka terlihat dengan jelas dimana letak posisi seni tari dalam ruang lingkup kebudayaan, yaitu seni tari merupakan bagian dari kesenian dan kesenian merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. Tentunya didalam pembahasan ini tidak akan membahas seluruh bentuk kesenian, akan tetapi hanya akan memfokuskan kepada bahasan seni tari, dan bentuk seni lainnya hanya dijadikan pendukung sebagai kelengkapan seni tari.

Apakah tari itu?
Di atas telah dijelaskan bahwa tari merupakan salah satu bentuk kesenian yang memiliki media ungkap/substansi gerak, dan gerak yang terungkap adalah gerak manusia. Karena tari adalah seni, maka walaupun substansi dasarnya adalah gerak, tetapi gerak-gerak di dalam tari itu bukanlah gerak realistis/keseharian, melainkan gerak yang telah diberi bentuk ekspresif. Gerak ekspresif, ialah gerak yang indah, yang bisa menggetarkan perasaan manusia. Adapun gerak yang indah ialah gerak yang distilir, yang di dalamnya mengandung ritme tertentu. Kata indah di dalam dunia seni adalah identik dengan bagus, yang oleh John Martin diterangkan sebagai sesuatu yang memberikan kepuasan batin manusia. Jadi bukan hanya gerak-gerak yang halus saja yang bisa indah, tatapi gerak-gerak yang keras, kasar, kuat, penuh dengan tekanan-tekanan serta aneh pun dapat merupakan gerak yang indah.

Apabila gerak merupakan element pertama dari tari, maka ritme merupakan elemen kedua yang juga sangat penting dalam tari. Curt Sachs (seorang akhli sejarah tari dan musik dari Jerman) membuat definisi yang singkat tentang tari yaitu: “Tari adalah gerak yang ritmis”. Karena singkatnya definisi ini bisa memberikan arti yang luas, orang berjalan, berbaris, menumbuk padi, mendayung dan lain sebagainya dapat dikatagorikan sebagai tari. Padahal yang dimaksud dengan tari bukanlah gerak ritmis semacam itu. Namun demikian definisi singkat yang dikemukakan oleh Curt Sachs dapat memberikan jalan kepada ahli-ahli lainnya untuk mengemukakan definisi yang lebih sempurna. Di bawah ini ada beberapa definisi tentang tari yang dikemukakan oleh beberapa akhli:
1. Kamaladevi Chatopadhayaya (seorang akhli tari dari India) mengemukakan: “Tari dapat dikatakan sebagai suatu instinct, suatu desakan emosi didalam diri kita yang mendorong kita untuk mencari ekspresi pada tari, yaitu gerakan-gerakan luar yang ritmis yang lama kelamaan nampak mengarah kepada bentuk-bentuk tertentu”.
2. Corrie Hartong (akhli tari dari Belanda) mengemukakan: “Tari adalah gerak-gerak yang diberi bentuk dan ritmis dari badan di dalam ruang”.
3. Pangeran Suryodiningrat (akhli tari Jawa) mengemukakan: “Tari gerakan-gerakan dari seluruh bagian tubuh manusia yang disusun selaras dengan irama musik serta mempunyai maksud tertentu”.
4. DR.J.Verkuyl mengemukakan: “Tari adalah gerakan-gerakan tubuh dan anggota-anggotanya yang disusun sedemikian rupa sehingga berirama”.
5. Walter Sarrel, mengemukakan: “Tari adalah gerakan-gerakan badan yang seimbang menurut irama tertentu dan dalam tempat tertentu”
Definisi-definisi yang telah diungkapkan di atas, dengan berlandaskan bahwa seni adalah ekspresi dan elemen dasar dari tari adalah gerak dan ritme, Soedarsono mengetengahkan sebuah definisi: “Tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan dengan gerak-gerak ritmis yang indah”. Pada definisi tari ini terasa lebih lengkap dan sesuai dengan kondisi tari di kita, tari bukan hanya unsur gerak yang ritmis, akan tetapi gerak ritmis yang di ekspresikan dari jiwa manusia serta mengandung unsur keindahan.Untuk menghasilkan gerak yang indah membutuhkan proses pengolahan/penggarapan terlebih dahulu, pengolahan unsur keindahannya bersifat stilatif dan distorsif. Gerak stilatif yaitu gerak yang telah mengalami proses pengolahan (penghalusan) yang mengarah pada bentuk-bentuk yang indah, sedangkan distorsif yaitu pengolahan gerak melalui proses perombakan dari aslinya dan merupakan salah satu proses stilasi. Dari hasil pengolahan suatu gerakan atau gerak yang telah mengalami stilisasi atau distorsi inilah nanti lahir dua jenis gerak tari, yaitu gerak murni (pure movement) dan gerak maknawi. Gerak murni adalah gerak tari yang dalam pengolahannya tidak mempertimbangkan suatu pengertian tertentu, yang dipentingkan adalah paktor keindahan geraknya saja. Sedangkan gerak maknawi adalah pengolahan gerak tari yang dalam pengungkapannya mengandung suatu pengertian atau maksud tertentu disamping keindahannya. Gerak maknawi disebut juga gerak gesture, yang ungkapannya bersifat peniruan (imitatif dan mimitif). Imitatif adalah gerak peniruan dari binatang dan alam, mimitif adalah gerak peniruan dari gerak gerik manusia itu sendiri. Dalam ragam-ragam gerak tari ada beberapa contoh gerak yang tergolong pada gerak maknawi/gesture diantaranya: gerak trisi, gedig merupakan sitilasi/distorsi dari gerak keseharian berjalan/lari, gerak sawang merupakan gambaran dari gerak melihat/memandang sesuatu, gerak lambean gambaran dari gerak merias diri dan sebagainya.
GERAK MURNI
GERAK STILASI
PENGHALUSAN GERAK
DISTORSI / PEROMBAKAN
GERAK KESEHARIAN
GERAK MAKNAWI
Tari merupakan komposisi gerak, berdasarkan bentuk geraknya secara garis besar ada dua jenis tari, yaitu tari yang representasional dan tari non representasional. Tari yang represetasional ialah tari yang menggambarkan sesuatu secara jelas. Sedangkan tari non representasional adalam tari yang tidak menggambarkan sesuatu. Ada beberapa contoh tarian yang bersifat representasional yang ragam geraknya banyak mengandung gerak maknawi/gesture bersifat imitatif/mimitif, dasar pembuatan karya tarinya bersumber kepada kehidupan sehari-hari baik kehidupan manusia, binatang atau alam, seperti: Tari metik teh, tani, perang, pencak silat,dan sebagainya, berdasar kepada peniruan gerak-gerik kehidupan manusia. Tari merak, kijang, kukudaan dan sebagainya, berdasar kepada peniruan gerak-gerik binatang. Bentuk-bentuk tari tersebut merupakan hasil peniruan dari obyek-obyek tertentu, setelahnya melalui proses pengolahan gerak stilasi dan distorsi maka terwujudlah karya tari. Dengan demikian bisa kita lihat dan bandingkan antara gerak keseharian baik manusia maupun binatang dengan gerak-gerak setelah menjadi tarian, sejauh mana proses stilasi/distorsi geraknya sehingga menjadi gerak-gerak yang indah. Namun demikian dalam garapan tari representasional diperlukan pula banyak gerak-gerak murni, karena apabila garapan tersebut dipenuhi oleh gerak-gerak maknawi, garapan itu akan lebih mengarah ke bentuk pantomim. Sedangkan pada garapan tari non representasional bisa kita lihat pada tari keurseus seperti tari Lenyepan, Gawil, Kawitan dan sebagainya, tarian ini tidak memberikan arti/gambaran tertentu dan menekankan pada keindahan gerak semata.

Keindahan dalam seni tari tentunya tidak hanya semata-mata tertumpu pada gerak tubuh, akan tetapi untuk keutuhannya masih memerlukan dukungan seni-seni lain sebagai kelengkapannya, seperti adanya rias, busana, properti, musik/karawitan, tata pentas, drama, dan sastra, menjadikan suatu kesatuan yang harmonis yang mendukung keindahan seni tari. Sehingga seni tari menjadikan bentuk seni yang komplek yang didalamnya mengandung beberapa
macam unsur seni. Kita perhatikan saja misalnya pada tari Gatotkaca, disamping ada tatanan gerak (koreografi) sebagai keutuhannya dilengkapi dengan busana khusus (celana sontog, sinjang, baju kutung anta kere, badong, makuta kelung, serta aksoseriesnya), dan tata rias, yang merupakan dukungan seni rupa. Musik/karawitan pengiring yang ditata khusus sesuai dengan isi/gambaran tari Gatotkaca, merupakan dukungan seni musik/karawitan. Latar belakang ceritra yang diambil dari ceritera wayang merupakan dukungan seni sastra, serta teknik penyajian yang ditunjang oleh kelengkapannya (stage, setting, lighting, sound sistem, tempat penonton) merupakan dukungan tata pentas.





















Bagian dua
KEKAYAAN SENI TARI

Dalam bahasan bagian dua ini akan mengarah kepada tinjauan tentang kekayaan seni tari berdasarkan: unsur-unsur gerak, fungsi, bentuk dan cara penyajiannya, jenis dan tema.

Kekayaan seni tari berdasarkan unsur-unsur gerak

Seperti telah dijelaskan di atas bahwa gerak merupakan substansi (bahan baku) dalam seni tari, sudah barang tentu gerak tersebut adalah gerak tubuh manusia yang ekspresif dan telah mengalami proses penggarapan/pengolahan (stilasi/distorsi). Semua gerak muncul sebagai akibat perpindahan tubuh atau bagian (anggota) tubuh dari suatu sikap dalam ruang ke sikap yang lain. Adanya perpindahan tubuh/anggota tubuh diakibatkan oleh kekuatan/energi yang disalurkan dari seluruh tubuh, kekuatan/energi tersebut disebut tenaga. Gerak yang terlahir membutuhkan tempat untuk keleluasaannya, tempat utuk keleluasaan gerak tubuh itu disebut ruang. Pada saat melakukan suatu gerak atau menghubungkan antara satu gerak ke gerak yang lainnya membutuhkan adanya waktu. Dengan demikian unsur-unsur yang terdapat dalam gerak tari terdiri dari: tenaga, ruang dan waktu. Untuk lebih jelasnya lagi perhatikan penjelasan berikut ini.

1. Tenaga
Kekuatan/energi yang disalurkan dari seluruh tubuh untuk melahirkan adanya gerak tari, tentunya berupa tenaga yang disalurkan melalui pengaturan tertentu sesuai dengan kebutuhan dan tujuan geraknya. Pengaturan tenaga tersebut disalurkan melalui dorongan perasaan/jiwa sesuai dengan isi/tujuan dari ungkapan gerak tarinya. Oleh karena itu tenaga yang disalurkan untuk melahirkan gerak-gerak tari membutuhkan aliran tenaga yang pareatif antara tenaga yang kuat, sedang dan lemah/halus sesuai dengan kondisi gerak tariannya. Sal Murgianto menjelaskan tentang beberapa faktor yang berhubungan dengan penggunaan tenaga dalam melakukan gerakan adalah:
Intensitas, atau banyak sedikitnya tenaga yang digunakan dalam melakukan gerak.
Tekanan atau aksen, yakni penggunaan tenaga yang tidak merata ada gerak yang hanya sedikit menggunakan tenaga, tetapi ada pula yang besar/banyak menggunakan tenaga.
Kwalitas, cara bagaimana tenaga disalurkan untuk menghasilkan gerak: bergetar, menusuk, mengayun, terus menerus tegang, dan sebagainya.

Pada garis besarnya gerakan pada tari jenis putri menggunakan tenaga relatif lebih lemah/halus bila dibandingkan dengan gerakan yang terdapat pada tari jenis putra, bahkan jangankan diantara jenis tarian, pada ragam-ragam gerak dalam suatu tarian pun terdapat pengaturan tenaga yang berbeda. Sebagai contoh bisa kita bandingkan penggunaan tenaga pada ragam gerak jangkung ilo yang terdapat pada tari putri halus lebih lemah dibandingkan dengan gerak jangkung ilo pada tari putri ladak, apalagi kalau dibandingkan dengan gerak jangkung ilo yang terdapat pada tari jenis putra. Lebih rincinya lagi penuangan tenaga dalam satu bentuk ragam gerak pun mengalami penyaluran tenaga yang tidak sama kuat lemahnya. Dengan demikian tenaga merupakan motor untuk mewujudkan gerak-gerak tari, dan pengaturan kuat lemahnya (intensitas) dialirkan melalui dorongan rasa/jiwa.

2. Ruang
Perwujudan gerak yang didorong oleh kekuatan tenaga, tidak akan sempurna apabila tidak ditunjang oleh keleluasaan tempat, dan keleluasaan tempat untuk bergerak inilah yang disebut dengan ruang. Yulianti Parani dalam bukunya “Pengetahuan Elementer Tari Dan Beberapa Masalah Tari” mengungkapkan bahwa didalam pergerakannya, tubuh ditutupi ruangan yang bisa terbagi atas dua bagian yaitu:
a. Ruang yang langsung bersentuhan dengan tubuhnya, yang batas imaginernya adalah batas yang paling jauh dapat dijangkau oleh tangan dan kakinya apabila dalam keadaan tidak pindah tempat. Ruang ini disebut “ruang pribadi”.
b. Ruang diluar tubuh yang bisa dimasuki apabila terjadi gerak pindah dari tempat asal.. Ruang ini disebut “ruang umum”. Apabila manusia bergerak seakan-akan ia selalu membawa serta “ruang pribadi” nya dan membentuk ruang baru di dalam “ruang umum”.

Oreantasi yang sederhana daripada ruang ialah bahwa ruang itu mempunyai tiga dimensi yang masing-masing atas dua arah: tinggi rendah, depan belakang, kanan kiri. Sal Murgianto dalam buku yang sama menyampaikan masalah ruang hubungannya dengan komposisi, beberapa elemen ruang yang patut mendapatkan perhatian adalah: garis, volume atau ukuran besar kecil, arah tinggi rendah, arah hidup (bergerak), fokus dan sebagainya.

Memperhatikan pemahaman tentang ruang yang diungkapkan di atas, dapat disimpulkan berdasarkan pemahaman “ruang pribadi” dan “ruang umum” sebagai berikut:
1. Berdasarkan “ruang pribadi”, ruang diartikan sebagai ungkapan gerak tubuh yang berkaitan dengan: volume atau ukuran besar kecilnya atau terbuka dan tertutupnya gerak, level atau ukuran tinggi rendahnya posisi tubuh pada saat melakukan gerakan dalam keadaan di tempat.
2. Berdasarkan “ruang umum”, ruang diartikan sebagai ungkapan gerak tubuh “ruang pribadi”, yang dilakukan berkesinambungan sehingga menimbulkan perpindahan tempat dari satu tempat ke tempat lain, atau yang disebut arah hidup (arah bergerak).

Untuk lebih jelasnya lagi sebaiknya kita tinjau salah satu ragam gerak tari yang sederhana dan analisa berdasarkan ruang pribadi dan ruang umum. Misalnya pada ragam gerak trisi tari putri, gerak yang dilakukan berdasarkan ruang pribadi dengan melakukan sikap tangan sembada (agak tertutup), sikap kaki jengket paha dan lutut rapat, pandangan muka agak tunduk. Apabila ditinjau berdasarkan ruang umum, sikap/gerak tubuh yang diungkapkan pada ruang pribadi tadi dilakukan berpindah tempat (arah gerak) dengan cara berjalan mengitari tempat yang tersedia. Garis terdapat pada lintasan arah gerak yang dilakukan penari. Maka terlihat jelas unsur ruang yang terdapat pada gerak trisi tersebut, demikian pula apabila kita menganalisa ragam-ragam gerak yang lain akan terlihat penggunaan ruang yang berbeda, bahkan apabila kita menganalisa masalah ruang dalam ilmu komposisi tari akan terjadi analisa yang lebih rinci dan lebih rumit.
Adanya ruang (ruang pribadi, ruang umum) dalam melakukannya tidak akan terlepas dengan adanya ruang pentas, yang pada garis besarnya ruang pentas tersebut terdiri dari ruang pentas prosenium dimana penonton hanya bisa mengamati tontonannya dari satu sisi (depan) saja, dan ruang pentas arena dimana penonton dapat mengamati tontonannya dari ketiga sisi atau bahkan dari segala arah (pentas melingkar).

3. Waktu
Jika kita perhatikan setiap tarian terdiri dari rangkaian ragam-ragam gerak, dan ragam-ragam gerak terdiri dari rangkaian unsur/elemen gerak, yang tersusun dengan baik sesuai dengan ungkapan isinya sehingga terwujud sebuah tarian, yang panjang pendeknya serta cepat lambatnya dapat berbeda-beda. Rangkaian gerak yang dihasilkan oleh tenaga dan ruang dan telah tersusun tersebut dalam proses melakukannya membentuk sebuah “wujud waktu”. Wujud waktu tersebut apa bila ditelaah lebih detail dalam penggunaannya dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu:
Irama, yaitu suatu ukuran/ketetapan waktu yang dijadikan patokan atau pijakan/rel pada saat melakukan gerak (lambat, sedang, cepat). Pada iringan tari tradisi sudah terdapat patokan irama yang baku seperti: kering tilu, untuk patokan irama yang cepat, kering dua/sawilet untuk patokan irama yang sedang, lagu ageung/gede untuk patokan irama yang lambat.
Ritme, yaitu pengaturan waktu melakukan rangkaian gerak dalam patokan irama tertentu. Sebagai cotoh misalnya pada saat melakukan salah satu ragam gerak jangkung ilo pada tari dasar putra gagah yang menggunakan patokan irama kering dua. Pada alunan irama tersebut terjadi pembagian waktu melakukan rangkaian unsur/elemen-elemen gerak sampai selesai melakukan ragam gerak jangkung ilo, berapa lama melakukan rangkaian elemen gerak tersebut dan kapan beralih ke rangkaian elemen gerak lainnya sampai seluruh ragam gerak jangkung ilo selesai dilakukan. Pengaturan waktu inilah yang dimaksud dengan ritme, dan akan lebih jelas apabila dianalisa sambil melakukan gerakannya.
Tempo, yaitu ukuran waktu yang dipergunakan dalam melakukan suatu ragam gerak tari (hasil wawancara dengan Iyus Rusliana, pada tanggal 12 November 2007). Dengan pemahaman seperti ini, tempo diartikan lamanya waktu dalam menyelesaikan satu bentuk ragam gerak tari. Sudah barang tentu dalam sebuah tarian terdiri dari beberapa ragam gerak yang temponya berbeda-beda. Sebagai contoh misalnya ragam gerak jangkung ilo memiliki tempo yang berbeda dengan ragam gerak pakblang, berbeda lagi dengan ragam gerak cindek. Ragam gerak cindek memiliki tempo yang paling pendek/singkat dibandingkan dengan ragam gerak lainnya. Sehingga dalam satu bentuk tarian yang terdiri dari rangkaian ragam-ragam gerak tersebut, merupakan satuan dari tempo- tempo yang ada pada setiap ragam geraknya.

Setelahnya memahami pengertian tentang waktu, marilah kita tinjau salah satu ragam gerak tari untuk ditelaah/analisa disesuaikan dengan bahasan tentang waktu (irama, ritme dan tempo). Supaya relevan dengan bahasan di atas dan telah dikenal oleh siswa, kita pilih lagi ragam gerak jangkung ilo yang terdapat pada tari dasar putra gagah seperti berikut:
1. Irama, pada ragam gerak jangkung ilo ini menggunakan patokan irama “kering dua” disesuaikan dengan patokan irama iringan/karawitan.
2. Ritme, kapan memulai melakukan ragam gerak jangkung ilo yang diawali dengan gerak candet berlanjut ke gerak sonteng, cindek, ngayun. Berapa lama waktu yang dipergunakan pada saat melakukan gerak candet kemudian pinda ke gerak sonteng, cindek dan ngayun. Ukuran waktu yang dipergunakan pada masing-masing gerak tersebut akan terasa dan nampak bedanya apabila telah diikuti oleh dorongan ritme yang dikeluarkan oleh karawitan sebagai pengiringnya. Kesatuan dari bagian-bagian waktu bergerak inilah yang dimaksudkan dengan ritme.
3. Tempo, akan nampak pada lamanya waktu yang dipergunakan dalam menyelesaikan rangkaian gerak candet, sonteng, cindek dan ngayun pada ragam gerak jangkung ilo tersebut.

Yang dimaksud dengan waktu disini tentunya bukan waktu yang ditetapkan secara pasti dengan ukuran menit atau detik, akan tetapi waktu yang diukur oleh perasaan pelaku disesuaikan dengan rasa irama/musikalitasnya.

Kesimpulan
Unsur-unsur tenaga, ruang dan waktu yang memunculkan adanya gerak tari, setelahnya dibahas pada bahasan di atas sedikitnya telah memberikan pemahaman tentang berbagai faktor munculnya gerak yang terdapat pada gerak tari. Untuk memperjelas kembali tentang unsur tenaga, ruang dan waktu dalam mewujudkan gerak tari, sebaiknya kita belajar menelaah kembali tentang kondisi suatu ragam gerak (misalnya ragam gerak mincid galang pada tari dasar putra gagah), dikaitkan dengan bahasan unsur-unsur gerak tadi.

Unsur tenaga terdapat pada intensitas, tekanan/aksen dan kwalitas pengaliran energi untuk mewujudkan gerak yang diharapkan pada ragam gerak mincid galang yang memiliki karakter gagah. Seberapa besar intensitas tenaga yang disalurkan dalam membentuk gerak capang, langkahan, usikmalik serta pemberian aksen dan kwalitas geraknya. Sehingga ragam gerak mincid galang ini bisa terungkapkan sesuai dengan tuntutan isi tariannya.

Unsur ruang terdapat pada perlakuan melakukan bentuk-bentuk dan arah gerak disesuaikan dengan tuntutan kesesuaiannya baik dengan ruang pribadi maupun ruang umum. Sejauh mana volume gerak tangan padaa saat melakukan sikap capang dan gerak langkahan, bagai mana arah gerak pada saat melakukan gerak langkahan, serta bagaimana level tubuh yang dibutuhkan pada saat melakukan ragam gerak mincid galang pada tarian tersebut. Sehingga apabila melakukan gerak sesuai dengan ruang yang dituntut oleh tarian ini, kwalitas gerak yang diharapkan bisa dicapai. Apalagi apabila ruang gerak yang dilakukan sesuai pula dengan kondisi ruang pentasnya.

Unsur waktu bisa dirasakan pada saat melakukan ragam gerak mincid galang dikaitkan dengan hal irama, ritme dan tempo. Patokan irama yang dipergunakan pada tarian ini adalah kering dua, yang dijadikan pijakan/rel untuk membentuk ritme pada ragam gerak mincid galang. Secara kebetulan pada ragam gerak ini dalam melakukan bagian-bagian geraknya memiliki ritme gerak yang sama sehingga pengaturan waktu dalam melakukan geraknyapun dirasakan tetap. Sedangkan tempo yang dipergunakan pada ragam gerak ini bisa terukur pada penggunaan waktu dari awal sampai akhir melakukan ragam gerak ini.

Kekayaan tari berdasarkan fungsinya

Tari tumbuh dan berkembang bersamaan dengan perkembangan kehidupan manusia, berarti tari telah ada dalam kehidupan manusia dengan usia sama dengan peradaban manusia didunia ini. Keberadaan tari bisa bertahan dalam kehidupan manusia, sebagai bukti bahwa tari dibutuhkan dan ada fungsinya dalam kehidupan manusia dimana pun berada. Kehidupan tari mengalami perkembangan dari jaman ke jaman sesuai dengan berkembangnya taraf kehidupan manusia di dunia ini termasuk pula kondisi alam/lingkungan, sosial dan kepercayaan/agamanya (religi) atau lebih luasnya lagi dengan perkembangan budayanya.

Untuk apa fungsi tari dalam kehidupan manusia itu ? Yulianti Parani dalam bukunya “Sejarah Tari Umum”, mengemukakan tiga fungsi dan arti yang penting dalam kehidupan manusia yaitu:
Sosial, sebagai penunjang berbagai aspek di dalam kehidupan kemasyarakatan seperti dalam berbagai upacara kepercayaan, siklus dari pada kehidupan manusia dengan manusia, atau masyarakat dengan masyarakat.
Stimulans, dalam memberikan dorongan berbagai emosi manusia secara individual maupun secara kelompok.
Komunikasi, dalam hubungan manusia dengan lingkungannya, dengan masa lampau, dengan kekuasaan yang dilaksanakannya.

Dengan melihat ketiga fungsi diatas, fungsi sosial memegang peranan yang lebih luas, bahkan fungsi stimulans dan komunikasi merupakan fungsi pendidikan, dampak dan perkembangan dari fungsi sosial. Sehingga dalam membahas kekayaan tari dalam fungsinya akan lebih banyak mengarah kepada fungsi tari dalam fungsi sosial, dan fungsi lainnya akan terangkum pada fungsi tari dalam pendidikan. Bahkan dalam perkembangannya kehidupan seni tari berfungsi pula sebagai sumber perekonomian.

1. Tari dalam fungsi sosial
Kehidupan sosial manusia sangat kompleks karena di dalamnya mencakup berbagai macam aspek. Akan tetapi dalam pembahasan disini akan terfokus kepada kondisi kehidupan tari yang ada dan yang pernah ada, dalam kehidupan sosial masyarakat. Sehingga dalam kenyataannya tari dalam kehidupan sosial masyarakat memiliki tiga fungsi utama yaitu:
Tari untuk kebutuhan upacara kepercayaan (religi), disebut tari upacara.
Tari untuk kebutuhan hiburan/kesenangan, disebut tari hiburan/pergaulan.
Tari untuk memberikan kesenangan kepada pihak lain (penonton), disebut tari pertunjukan.

a. Tari upacara
Tarian ini lahir merupakan dampak dari aktivitas masyarakat yang berhubungan dengan penyelenggaraan pemujaan dalam kepercayaannya yang bersifat magis dan sakral. Tari upacara merupakan tari yang paling tua, karena tarian ini telah muncul pada masa peradaban manusia masih primitif (sederhana), dimana manusia dijaman itu masih memiliki intelektual yang rendah dan masih memiliki keterbatasan kemampuan berpikir serta menganut kepercayaan animisme, dinamisme dan totemisme. Kepercayaan animisme yaitu percaya kepada kekuatan roh manusia yang sudah meninggal tertutama orang yang pada masa hidupnya berpengaruh, dinamisme yaitu percaya kepada kekuatan benda-benda dan totemisme yaitu percaya pada kekuatan mahluk-mahluk lain, yang dianggap memiliki pengaruh dalam kehidupan manusia.

Segala permasalahan/penomena yang didapatkan dalam kehidupan manusia yang tidak bisa diselesaikan oleh daya pikir/akalnya, seperti mengapa terjadi orang sakit, ingin mendapatkan keberhasilan dan keselamatan dalam mencari nafkah (bertani, berburu, mencari ikan), menghadapi musuh/berperang, kejadian dalam siklus kehidupan manusia, kejadian-kejadian alam dan sebagainya, demikian pula dalam mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilannya. Dalam penyelesaiannya selalu meminta bantuan kekuatan di luar kemampuan kekuatan diri manusia melalui penyelenggaraan pemujaan sesuai dengan kepercayaannya. Kegiatan pemujaan inilah dalam menyampaikan kehendaknya dilakukan dengan penuh konsentrasi sehingga mewujudkan gerak-gerak yang ekspresif dan berbeda dengan gerak kesehariannya. Dikarenakan kegiatan ini dilakukan secara berulang-ulang, maka gerak-gerak yang dimunculkan menjadi suatu ketetapan yang dianut dan dilakukan secara turun temurun, dan ketetapan gerak ini menjadi baku yang berwujud tari upacara.

Kondisi tari upacara bila ditinjau dari segi koreografi, rias dan busananya, musik pengiring, tempat dan cara penyajiannya sangat sederhana, karena kita maklumi tarian upacara bukan bentuk tari hasil dari penataan khusus, akan tetapi hanya merupakan gerak-gerak spontan sebagai ekspresi dari gerak-gerik penyelenggaraan pemujaannya. Demikian pula rias dan busana, musik pengiring, tempat dan cara pementasannya sangat tergantung kepada tujuan dan kondisi dari penyelenggaraan upacaranya. Keindahan yang terlahir dari gerak-gerak yang sangat didukung oleh kekuatan ekspresi dan ritme dalam penyampaian harapannya (tujuan dari pemujaannya). Bentuk tari upacara ini hidup dimana-mana di dunia ini, akan tetapi sesuai dengan perkembangan kehidupan sosial masyarakatnya ada yang masih bertahan hidup, dikarenakan tarian tersebut masih relevan dengan kebutuhan masyarakatnya, dan banyak yang sudah punah dikarenakan sudah tidak relevan lagi dengan kondisi kehidupan masyarakatnya, atau bisa bertahan dikarenakan sudah beralih fungsi ke bentuk tari lain seperti menjadi tari hiburan atau pertunjukan.

Ada beberapa contoh tarian yang tergolong kepada tari upacara:
Di masayarakat pedalaman Banten Selatan (Baduy), masih terpelihara upacara seperti yang disebut “ngaseuk” yaitu upacara sebelum menanam padi untuk perayaan Dewi Sri./ Upacara tersebut diselingi tabuh-tabuhan dan tari-tarian yang dilaksanakan di malam hari, paginya sambil menunggu makan bersama, mereka menabuh angklung sambil menari agar benih merasa tenang dan tumbuh dengan subur. Sehabis makan diadakan lagi pupuhan dengan mantra, angklung, nyanyi serta tari.
Masih di daerah Baduy, terdapat tari upacara “Seseroan” yaitu upacara untuk meminta datang hujan bila musim hujan terlambat datang. Beberapa penari wanita membawa selendang putih, sambil menyanyi mereka mengipas-ngipaskan selendang dab menari, akhirnya disemburi air.
Di daerah Rancakalong (Sumedang) dan daerah lainnya di Jawa Barat seperti Cibalong (Tasikmalaya), terdapat tari upacara yang disebut Tarawangsa/Ngekngek/Sampyung, untuk upacara penyimpanan (nginepkeun) pada saat setelah beres panen. Upacara ini masih berkaitan dengan pemujaan Dewi Sri.
Upacara pengangkutan hasil panen padi dari sawah ke “leuit” disebut tari “Rengkong” terdapat di beberapa daerah di Jawa Barat-Banten.
Di daerah Indramayu terdapat tari upacara untuk ungkapan rasa syukur dan permohonan berkah untuk mengawali tanam padi yang disebut “ngarot”.
Di Jawa Barat bagian selatan terdapat suatu upacara untuk khitanan yang disebut “Baksa”.
Di Sumedang dan Subang ada upacara yang berkaitan dengan kegiatan pertanian yang disebut “Gembyung”.
Tentunya masih banyak lagi bentuk tari upacara lainnya, baik yang masih hidup maupun yang sudah punah. Dalam pelaksanaanya tari upacara tidak sepenuhnya diisi oleh acara upacara, akan tetapi suka diisi/diselingi pula oleh acara tari hiburan. Bahkan dalam perkembangannya banyak pula bentuk-bentuk tari upacara yang berubah fungsi menjadi tari hiburan dan tari pertunjukan.

b. Tari hiburan
Soedarsono dalam bukunya “jawa Dan Bali Dua Pusat Perkembangan Dramatari Tradisionil Di Indonesia, halaman 24”, teleh mengungkapkan sebagai berikut: “Adapun yang termasuk tari-tarian hiburan, tari-tarian dimana titik berat tarian tersebut bukanlah keindahan, tetapi lebih pada segi hiburan, dan umumnya merupakan tarian pergaulan”. Dalam tarian ini akan terlihat lebih mementingkan kepuasan pribadi (indivdu) pelakunya dari pada kepuasan bagi orang yang melihatnya (penonton), yang penting mereka bisa bergerak sepuasnya sesuai dengan alunan irama yang diikutinya. Kemudian Soedarsono mengungkapkan kembali bahwa: “Penari tidak mempunyai tujuan untuk ditonton, jadi jelas walaupun tari-tariannya kadang-kadang mempunyai perbendaharaan gerak yang cukup banyak dan bernilai, tetapi karena penarinya sendiri hanya memusatkan atau mempunyai tujuan tertentu, yaitu menari untuk kepuasan dirinya semata-mata, maka tidak ada proses untuk menertibkan, mengolah dengan teratur demi untuk kepuasan orang lain, yaitu penonton”.

Yang dimaksud dengan tari sebagai media pergaulan di sini, pada dasarnya berlatar belakang dilakukan secara terpadu bersama-sama, baik oleh semua laki-laki, semua perempuan maupun laki-laki sama perempuan. Bahkan semaraknya fenomena ini antara lain bahwa semua orang yang hadir di tempat itu berhak dan layak tampil, tak ada garis pemisah antara pelaku atau penari dengan penonton (Iyus Rusliana, 1997;13). Disetiap daerah memiliki tarian yang sifatnya untuk hiburan/kegembiran seperti halnya di Jawa Barat. Berdasarkan perkembangan kehidupan masyarakat di jaman feodal, masyarakat terpisahkan menjadi dua golongan, terdiri dari golongan kehidupan masyarakat rakyat dan golongan kehidupan masyarakat keraton/menak/bangsawan, dimana kehidupan sosial dan ekonomi serta intelektualnya memiliki kondisi yang berbeda, tentunya kalangan masyarakat bangsawan kondisi sosial, ekonomi dan intelektual lebih tinggi, sedang kalangan masyarakat rakyat lebih sederhana. Dengan kondisi seperti itu berpengaruh pula terhadap kondisi kehidupan tari hiburan, sehingga ada perbedaan antara tari hiburan rakyat dengan tari hiburan kalangan menak/bangsawan, walaupun ada kesamaan dalam tujuan untuk mencari kesenangan, akan tetapi dalam etika dan tempat penyelenggaraan, bentuk-bentuk gerak, rias busana serta peralatan yang dipergunakan tari hiburan rakyat sangat sederhana dibandingkan dengan yang dipergunakan di kalangan bangsawan/menak. Kesamaan yang lain juga terdapat pada faktor pelaku hiburan adalah kaum laki-laki, sedangkan wanita dijadikan media dalam hiburan tersebut (disebut ronggeng).

Tari hiburan di kalangan rakyat kehidupannya lebih kaya (beragam) bila dibandingkan dengan di kalangan bangsawan/menak, hal ini bisa dipahami karena kehidupan masyarakat rakyat lebih luas, dengan lingkungan yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah yang lain, sehingga melahirkan bentuk-bentuk tari hiburan rakyat yang berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lainnya. Sedangkan tari hiburan di kalangan menak/bangsawan kehidupannya sangat sedikit dan berpusat dilingkungannya sendiri.
Agar lebih jelas perhatikan beberapa contoh tarian hiburan/pergaulan yang hidup di kalangan rakyat dan di kalangan menak/bangsawan.

Tari hiburan yang hidup di kalangan masyarakat rakyat diantaranya:
Bajidoran, hidup dikalangan masyarakat daerah Subang
Belentuk ngapung, hidup dikalangan masysrakat pantai utara Subang
Doger kontrak, hidup dikalangan msyarakat perkebunan daerah Subang
Bangreng, hidup dikalangan masyarakat daerah Sumedang
Topeng Banjet, hidup di kalangan masyarakat daerah Karawang
Topeng Cisalak, hidup di kalangan masyarakat Cisalak – Depok
Ketuk tilu, hidup hampir di seluruh wilayah Jawa Barat, yang gayanya ada yang disebut gaya kaleran (daerah utara Jawa Barat) dan gaya pakidulan (wilayah Priangan), dan sebagainya.
Ronggeng Gunung, hidup di kalangan masayarakat Ciamis Selatan

Tari hiburan di kalangan masyarakat menak/bangsawan di Jawa Barat adalah tari tayub (nayuban). Tari tayub merupakan kalangenan para bangsawan (kaum laki-laki), yang pada saat melakukan tariannya dibarengi oleh penari wanita (ronggeng) sebagai penambah kesenangan/kegembiraannya. Bahkan suka dibarengi pula oleh minum minuman keras untuk menambah keberanian dan percaya diri sampai mabuk. Sehingga sering terjadi perlakuan-perlakuan yang melanggar norma kesusilaan.

Sebenarnya terjadinya perlakuan-perlakuan yang melanggar kesusilaan tidak hanya terjadi pada tari hiburan di kalangan bangsawan/menak saja, akan tetapi tari hiburan di kalangan rakyatpun suka dibarenggi pula dengan perlakuan yang sama. Hal ini cukup meresahkan masyarakat serta merendahkan citra keseniannya. Oleh karena itu setelahnya jaman kemerdekaan tingkat intelektual masyarakat secara umum (pendidikan dan ajaran agama) tambah maju, juga pemerintah tanggap atas unsur-unsur negatif tersebut, sedikit demi sedikit unsur-unsur negatifnya ditertibkan sehingga muncul tari hiburan yang lebih murni menggunakan media gerak tari. Bahkan muncul adanya perubahan fungsi yang asalnya bentuk tari hiburan melalui pengolahan/penggarapan tertentu menjadi bentuk tari pertunjukan/tontonan.

c.Tari pertunjukan
Sudarsono dalam bukunya “Tari – tarian Indonesia I” mengemukakan bahwa: “Jiwa manusia memiliki tiga aspek yang berbeda-beda, yaitu kehendak, akal dan rasa atau emosi. Memang dalam seni tari rasa memegang peranan yang terpenting, akan tetapi aspek lain (kehendak atau kemauan dan akal) memegang peranan yang penting pula. Jelasnya, kalau diperhatikan secara cermat, tari-tarian di dunia ini ada yang merupakan ekspresi jiwa yang didominir oleh kehendak atau kemauan, ada yang oleh akal, dan ada pula yang oleh rasa atau emosi.”.

Tari upacara merupakan ekspresi jiwa yang didominir oleh kehendak atau kemauan, tari hiburan/ pergaulan merupakan ekspresi jiwa yang didominir oleh rasa atau emosi, sedangkan tari pertunjukan merupakan ekspresi jiwa yang didominir oleh akal. Maksudnya tari pertunjukan dalam proses karyanya lebih banyak menggunakan akal/pemikiran, karena tarian ini sengaja dibuat untuk disajikan dan memberikan kesenangan kepada pihak lain/penononton, melalui perencanaan (pembuatan konsep/naskah), pengolahan/penggarapan, serta penampilan hasil karya (pementasan), tertata dengan baik secara artistik untuk mewujudkan suatu tontonan yang dapat memberikan kepuasan/kesenangan bagi penonton/apresiatornya. Pada fungsi inilah tari terwujud lewat ekspresi penari menjadi media komunikasi estetik antara penggarap atau koreografer dengan para penontonnya. Sehingga tarian ini disebut juga berfungsi sebagai presentasi estetis.

Iyus Rusliana dalam bukunya “Aspek manusia dalam seni pertunjukan 1997:15,16" mengemukakan bahwa: Karya-karya tari tradisi, tumbuh dan berkembang dari dua sisi aktivitas. Pertama adalah tumbuh dari aktivitas kreatif dengan mengolah, memproses, menata atau mengartistikan kekayaan-kekayaan tari upacara adat tertentu dan tari hiburan atau pergaulan tertentu. Kreativitas dalam memilih dan menentukan tarian upacara atau tarian hiburan yang digarapnya menjadi tari pertunjukan tersebut, umumnya dilatarbelakangi pada hal-hal yang ideal. Antara lain, ada yang semata-mata karena tarian tersebut memiliki kapasitas dan potensial sebagai tari pertunjukan, sehingga tarian tersebut memiliki fungsi menjadi ganda seperti halnya tari Sisingaan atau Gotong Singa (semula sebagai sarana upacara khitanan), tari Buncis dan tari Bungko (semula sebagai sarana upacara lingkaran alamiah), tari-tarian Topeng Cirebon (semula sebagai sarana upacara lingkaran kehidupan), tari-tarian Keurseus (semula tarian hiburan atau Tayuban). Selain itu adapula sejumlah embrio tarian yang berada dalam penyajian teater rakyat Topeng Cisalak, Banjet dan Wayang Wong Priyangan/Pasundan, kemudian diolah, diproses atau ditata kembali dengan tetap berpola pada sumber-sumbernya yang terkait dan mentradisi, sehingga tumbuhlah tari-tarian pertunjukan seperti tari topeng Putri (semula dalam teater rakyatTopeng Cisalak Depok), tari topeng Banjet (semula dalam teater rakyat Topeng Banjet Karawang) dan tari Gatotkaca, tari Rahwana, tari Baladewa, tari Perang Srikandi vs Mustakaweni, Arjuna Sasrabahu vs Somantri, Gatotkaca vs Sakipu, serta tari Badaya (semua dalam Wayang Wong Priangan). Tumbuhnya tari Ketuk Tilu dan Pencak Silat sebagai tari pertunjukan, diduga sebagai penyelamat dari lunturnya masyarakat dalam mendukung tumbuhnya sebagai sarana hiburan atau pergaulan. Di samping itu, tak luput dari tilikan seniman tari tradisi yang kreatif terhadap kapasitas tariannya yang potensial. Dengan dengan demikian tari-tarian Ketuk Tilu dan Pencak Silat dewasa ini cenderung lebih eksis pertumbuhannya sebagai tari pertunjukan. Ada pula tari pertunjukan yang dilahirkan dari hasil perkembangan tar-tarian upacara dan hiburan, lahirnya tarian ini dilatarbelakangi dalam upaya menambah keanekaragaman dari tarian sejenisnya yang sudah ada. Seperti halnya tari Kawitan, tari Kastawa dan Gunungsari, adalah tarian yang merupakan pengembangan dari tari Keurseus yang telah lebih dulu ada. Kemudian ada pula tarian yang berkembang berlandaskan pakem wayang atau seni pedalangan yang berakar lama. Diantaranya Tari Ekalaya, Jayengrana, Dipatikarna, Subadra, Sencaki/Bima Kuntet. Arayana, Aradea, dan Anoman.

Di samping bentuk-bentuk tarian yang dibahas di atas bermunculan pula hasil kreativitas seniman tari yang memperkaya khasanah kehidupan seni tari di Jawa Barat (Pasundan), misalnya R. Tjetje Somantri banyak jasanya dengan karya-karya tari pertunjukan (mayoritas tarian putri) sebagai tari “kreasi baru”, seperti tari Sekar Putri, Sulintang, Puja, Kandagan, Merak, Anjasmara, dan sebagainya. Gugum Gumbira seorang kreator tari yang berhasil dengan gemilang dalam karya-karya tarinya yang dikenal dengan tari Jaipongan merupakan pengembangan dari bentuk-bentuk tari hiburan rakyat.

Apabila disimpulkan, kekayaan seni tari pertunjukan yang ada di Jawa Barat/Pasundan pada garis besarnya terdiri dari:
Seni tari pertunjukan merupakan kemasan/pengembangan dari tari upacara dan tari hiburan.
Seni tari pertunjukan merupakan hasil penggarapan dari tari pertunjukan hasil kemasan/pengolahan dari tari upacara dan hiburan.
Seni tari pertunjukan kreasi baru yang memiliki kebebasan dalam memilih sumbernya.
Kekayaan tari pertunjukan tradisi di Jawa Barat/Pasundan, dikelompokan berdasarkan pada genrenya, genre bisa diartikan: jenis, kelompok atau ragam bentuk. Sehingga berdasarkan genrenya tari pertunjukan terdiri dari:
1. Gendre tari Wayang
2. Gendre tari Keurseus
3. Gendre tari Topeng (Topeng Cirebon, Topeng Priangan)
4. Gendre tari Kreasi R.Tjetje Somantri
5. Gendre tari Ketuk tilu
6. Gendre tari Jaipongan
7. Gendre tari Pencak silat.

2. Tari dalam fungsi pendidikan
Pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metoda-metoda tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku sesuai dengan kebutuhan (lihat Psikologi Pendidikan, 2006 :10)
Peranan seni tari dalam pendidikan diartikan bagaimana dampak positif dari aktivitas manusia dalam seni tari dan bagaimana pengaruh positifnya terhadap kehidupan manusia baik secara individu maupun kelompok. Dijelaskan di atas bahwa tari dalam kehidupan manusia di samping memiliki fungsi sosial, juga memiliki fungsi stimulans memberikan dorongan berbagai emosi manusia, serta fungsi komunikasi dalam hubungan manusia dengan lingkungan, dengan masa lampau, dengan kekuatan yang menguasainya, dengan kekuasaan yang dilaksanakannya..

Pada prinsifnya fungsi tari dalam pendidikan memiliki kaitan dengan hal-hal tersebut di atas yaitu dapat membentuk manusia yang kaitannya dengan pembentukan keterampilan, pengetahuan, sikap dan mental.
Pembentukan keterampilan, menjadi pendorong (stimulans) dalam berkarya, baik sebagai pembuat karya, pelaku maupun pendukung, sehingga akan mendidik keterampilan dan kretivitas orang-orang yang terlibat.
Pembentukan pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan tari yang banyak kaitannya dengan ilmu pengetahuan lain, baik di masa lampau maupun masa kini.
Pembentukan sikap dan mental , melalui kehidupan kesenian khususnya seni tari, diharapkan dapat membentuk sikap dan mental yang baik serta menjadi manusia yang punya kepribadian rasa budaya kebangsaan yang kuat.

3. Tari dalam fungsi ekonomi
Maksudnya ialah kehidupan dalam dunia seni tari bila dilaksanakan secara profesional, akan menimbulkan pertumbuhan ekonomi bagi kehidupan pelaku, pengelola, bahkan lebih luasnya lagi menjadi sumber defisa negara yang berkaitan dengan dunia pariwisata.

Apabila disimpulkan, kekayaan tari berdasarkan fungsinya bisa dilihat bagan seperti di bawah ini:
FUNGSI SOSIAL
FUNGSI PENDIDIKAN
PEMBENTUKAN KETERAMPILAN
TARI UPACARA
TARI HIBURAN
KEKAYAAN TARI BERDASARKAN FUNGSINYA
TARI PERTUNJUKAN
PEMBENTUKAN PENGETAHUAN
FUNGSI EKONOMI
SUMBER PENGHASILAN
PEMBENTUKAN SIKAP/MENTAL

Kekayaan tari berdasarkan bentuk dan cara penyajiannya

Pada bahasan kekayaan tari berdasarkan fungsinya terlihat begitu banyak bentuk-bentuk tari sesuai dengan ciri masing-masing jenis tari yang sesuai dengan fungsinya sebagai upacara, hiburan, dan pertunjukan. Ditinjau dari bentuk dan cara penyajiannya memiliki keberagaman pula, sehingga kekayaannya bisa dilihat seperti pada bagan di bawah ini:


PENYAJIAN TARI
BENTUK PENYAJIAN
CARA PENYAJIAN

TARI TUNGGAL

TARI RAMPAK

DRAMATARI
TARI BER PASANGAN
TARI PADUAN KELOMPOK

STATIS
MOBILE/ BERJALAN


1. Kekayaan Seni Tari Berdasarkan Bentuk Penyajiannya
Setiap penyajian tari akan tampak jelas aneka ragam bentuk koreografinya, seperti kita ketahui ada koreografi yang diungkapkan oleh seorang penari, dua orang penari atau lebih, dalam pengungkapannya yang sama dan yang berbeda.
Enoch Atmadibrata dalam buku “Pengetahuan Elemen Tari dan Beberapa Masalah Tari, 1986:185” memberikan penjelasan tentang bentuk-bentuk penyajian tari sebagai berikut:
Tari Tunggal, adalah tarian yang dilakukan oleh seorang penari. Gerakannya mencapai tingkat kerumitan tertinggi dibanding dengan bentuk tari lainnya.
Tari Rampak, adalah tari yang dilakukan oleh lebih dari seorang penari dengan gerakan-gerakannya yang seragam (rampak). Untuk memenuhi keseragaman gerak maka akan terjadi penyederhanaan gerak. Atau memang sudah ditata sedemikian rupa sehingga tingkat kerumitannya tidak terlalu menyulitkan untuk dilakukan seragam.
Tari Berpasangan, adalah tarian yang dilakukan berdua dengan gerakannya sebagian berlainan satu sama lain, tetapi antar penari merupakan satu kepaduan disebut duet. Bentuk perkembangan lainnya ada yang ditarikan bertiga (trio) dan paduan dari empat penari yang disebut Quartet.
Tari Paduan Kelompok, adalah karya tari dimana dua atau lebih kelompok,penari yang gerakannya antar kelompok itu berlainan. Umpamanya tari tunggal tampil dengan tari rampak yang masing-masing gerakannya berlainan tetapi antara keduanya ada keterpaduan jalinan. Dapat pula terjadi ditampilkan bersamaan bentuk tari tunggal dengan tari berpasangan, atau tari berpasangan bersama tari rampak.
Dramatari, adalah karya tari yang berpola pada adegan-adegan serta alur ceritera atau plot.
Dari pengertian di atas, khusus tentang pemahaman tari paduan kelompok dan dramatari, dramatari masih termasuk pada golongan tari paduan kelompok. Bisa disimpulkan bahwa Tari Paduan Kelompok di dalamnya terdiri dari komposisi tari yang berpolakan pada adegan-adegan serta alur ceritera atau plot tertentu yang disebut dramatari. Dan ada komposisi tari paduan kelompok berbentuk ungkapan tema tertentu yang merupakan tarian selesai (lepas).

Agar lebih jelas tentang pembahasan kekayaan tari berdasarkan bentuk penyajiannya kita lihat kembali penjelasan yang lebih detail beserta contoh-contohnya, seperti yang telah diungkapkan oleh Iyus Rusliana (Aspek Manusia dalam Seni Pertunjukan, 1997: 19-22).

1. Tari Tunggal
Di atas telah dikemukakan bahwa bentuk tari tunggal adalah perwujudan koreografi yang khas ditarikan oleh seorang penari, dan tingkat kerumitan pengungkapannya relatif lebih tinggi dibandingkan bentuk tari lainnya. Kondisi ini dikarenakan dilakukan oleh seorang penari, sehingga nilai-nilai estetik tarian yang dilakukannya bertumpu kepada seorang penari. Demikian juga tatanan gerak tari tunggal memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi, sulit untuk dilakukan secara rampak.

Khasanah tari tradisi di Jawa Barat (Pasundan) yang termasuk penyajiannya berbentuk tunggal antara lain: Tari Randukentir dalam upacara; serta sejumlah tari pertunjukan seperti Topeng Panji, Pamindo,Rumiang, Tumenggung dan Klana, pada jenis tari topeng Cirebon, tari Lenyepan, tari Gawil, tari Kawitan, tari Gunungsari, tari Kastawa dan tari Kering Dua (monggawa) dan tari Kering Tilu (Ngalana) yang sering dijadikan penyambung tarian yang disebutkan terdahulu (naekeun) yang terhimpun pada jenis tari Keurseus, kemudian tarian Wayang yang mengungkapkan latar belakang pertokohan wayang seperti tari Gatotkaca, tari Baladewa, tari Rahwana, tari Sencaki, tari Subadra, tari Dipatikarna, tari Arayana, dan tari Jayengrana. Selain itu ada pula tari Topeng Putri yang berasal dari penyajian terater rakyat Topeng Cisalak, dan beberapa tarian tunggal pria yang ada pada jenis tari Ketuk Tilu seperti tari Polostomo, Geboy, dan tari Jago, serta sejumlah tarian Pencak Silat antara lain dengan koreografi Paleredan, Tepak Tilu, Tepak Dua, Padungdung serta Golempang.
.
2. Tari rampak atau Masal
Kekhasan dan kekuatan koreografi tari rampak atau masal ini adalah dimana setiap sikap dan gerak dari keseluruhan koreografi diungkapkan oleh jumlah penari yang banyak (minimal dua orang atau lebih) dengan perwujudan yang sama atau seragam. Sisi kesulitan bagi para penari di sini, harus mampu menjalin kekompakan/harmoni dan kejelian mengekspresikan seluruh anggota tubuhnya sehingga keseragaman sedetail-detailnya dapat terwujud dengan sempurna.

Dari sejumlah khasanah tari tradisi daerah Jawabarat/Pasundan yang penyajiannya berbentuk tari rampak atau masal ini antara lain: tari Tarawangsa dan tari Ngaseuk pada penyajian tari upacara; tari Sisingaan, tari Bungko, dan tari Buncis pada penyajian tari upacara yang juga berkembang sebagai tari pertunjukan, tari Rudat yang merupakan tari pertunjukan berasal dari sarana hiburan (kalangenan) para santri di pesantren-pesantren, serta tari Badaya yang berasal dari tarian wayang. Tari Sekarputri, Sulintang, Merak, Dewi dan sebagainya merupakan tari karya R Tjetje Somantri.

3 Tari Berpasangan
Tari berpasangan ini adalah tarian duet, dalam arti keutuhan koreografinya diwujudkan atas adanya interaksi dan perpaduan gerak yang satu sama lain berbeda. Dengan perkataan lain, keutuhan dan kekuatan koreografinya terwujud dari saling isi mengisi atau saling melengkapi kedua orang penari yang mengekspresikannya. Baik perpaduan dari dua orang penari yang berlainan jenisnya seperti penari pria dengan pria dan penari wanita dengan wanita, maupun berlainan jenis yaitu penari pria dengan wanita. Dengan demikian, tingkat kesulitan menarikannya tari pasangan atau duet ini akan terungkan dari sisi kemampuan menjalin kekompakan dalam perpaduan saling isi mengisi atau saling melengkapi secara harmoni sehingga keutuhan, kekhasan dan kekuatan koreografi tari duet ini terekspresikan dengan sempurna.

Beberapa contoh tari tradisi daerah Jawa Barat/Pasundan yang penyajiannya berbentuk tari duet atau berpasangan, diantaranya: tari Ketuk Tilu yang merupakan tari berpasangan pria dengan wanita (Ronggeng); tari Pencak Silat pada bagian koreografi padanan atau perkelahian yang biasanya pria dengan pria; tari Perang Tumenggung Magangdiraja vs Jinggananom pada tari Topeng Cirebon yang merupakan berpasangan sejenis atau pria dengan pria; tari perang Gatotkaca vs Sakipu dan Arjuna Sasrabahu vs Somantri (berpasangan sejenis atau pria dengan pria) serta tari Perang Srikandi vs Mustakaweni (berpasangan sejenis atau wanita dengan wanita) pada tarian Wayang.

4. Tari Kelompok (Paduan kelompok)
Apabila kita simak pengertian bentuk tari kelompok ini, minimal jumlah penarinya lebih dari dua orang atau paling sedikit tiga orang. Karena tari kelompok adalah penyajian tari yang merupakan perpaduan dari : bentuk koreografi tari tunggal dengan tari rampak atau masal; bentuk koreografi tari tunggal dengan tari berpasangan; bentuk koreografi tari rampak dengan tari berpasangan; dan sekaligus merupakan perpaduan dari ketiga bentuk koreografi, atau perpaduan tari tunggal, tari rampak, dan dengan tari berpasangan. Kerumitan yang paling berat bagi para penai dalam mengungkapkannya antara lain kekompakan antar penari dalam menjalin interaksi yang harmoni dan luluh, serta kejelian-kejelian dalam alur pola ruang dan pola waktu atau pola iramanya.

Tari tradisi daerah Jawa Barat/Pasundan yang penyajiannya berbentuk tari kelompok, terdapat pada tari upacara seperti tari Seseroan, tari Ngarempug nutu, tari Bengberokan, tari Surak Ibra, serta tarian upacara yang disajikan berbentuk helaran atau semacam pawai seperti tari Rengkong dan Badawang. Selain itu ada pula bentuk tari kelompok yang tersaji sebagai sarana hiburan/pergaulan seperti tari Ronggeng Gunung. Sedang penyajian tari pertunjukan yang relevan dengan kategori bentuk tari kelompok ini adalah dramatari tradisi (meski hampir punah) seperti Wayang Wong atau Wayang Topeng Cirebon, dan Wayang Orang Pasundan. Pada tahun 1960-han pernah hidup dan berkembang bentuk dramatari tanpa dialog (bicara, nyanyi) dan hanya menggunakan media gerak dengan sebutan “Sendratari”, dan pernah hidup dan berkembang pula dramatari yang menekankan dialognya menggunakan nyanyi (Tembang) degan sebutan Gending Karesmen. Walaupun dalam kenyataannya banyak yang berpendapat bahwa Gending Karesmen ini tergolong kepada Dramasuara, karena penggunaan lagu lebih dominan dibandingkan dengan gerak-gerak tari, akan tetapi pada garapan-garapan tertentu gerak-gerak tari bisa dominan pula.

2. Kekayaan Tari Berdasarkan Cara Penyajiannya.
Cara penyajian atau penampilan seni tari pada prinsifnya terdiri dari dua cara yaitu:
Statis, artinya penyajian tari yang diselenggarakan pada satu tempat tertentu, biasanya tempatnya berbentuk panggung (stage) baik yang berbentuk prosenium maupun arena. Bentuk-bentuk tarian yang disajikan cara ini sangat banyak, seluruh bentuk penyajian tari pada umumnya disajikan dengan cara ini, bahkan taria-tarian yang biasa dipertunjukan dengan cara helaran, melalui penggarapan/pengemasan tertentu bisa pula disajikan dengan cara statis.
Mobile/berjalan, artinya penyajian tari yang diselenggarakan tidak diam di satu tempat, akan tetapi dengan cara sambil berjalan/berpindah tempat dari satu tempat ke tempat yang lain. Cara penyajian ini disebut pula “Helaran,Pawai, Arak-arakan”, istilah Jawa disebut “Dolanan”. Tari-tarian yang disajikan dengan cara ini banyak hidup di daerah-daerah yang biasanya diselenggarakan berkaitan dengan berbagai acara dan upacara misalnya : Sisingaan, Genjringronyok dari daerah Subang, Kuda Renggong, Umbul-umbul dari daerah Sumedang, Surak Ibra dari daerah Garut, Badawang dari Bandung, sering disajikan pada acara perayaan hari-hari raya, pesta acara khitanan dan acara lainnya. Rengkong, Buncis, dipergunakan dalam upacara yang berkaitan dengan pertanian dan acara-acara lainnya.

Kekayaan Tari Berdasarkan Konsep/Orientasi Garapan

Pembahasan tentang macam/kekayaan tari pertunjukan berdasarkan konsep/orientasi garapan, menunjukan khasanah kehidupan tari yang mengacu kepada segi kuantitas dalam lingkup konsep/orientasi garapannya. Dalam lingkup konsep/ orientasi garapannya kekayaan tari pertunjukan dapat dibagi menjadi: Tari Tradisional dan Tari Kreasi.

1. Tari Tradisional
Tari tradisional adalah tari yang telah melampaui perjalanan perkembangannya cukup lama, dan senantiasa berfikir pada pola-pola yang telah mentradisi. Tarian ini digolongkan atas tari tradisional Kerakyatan dan tari tradisional Bangsawan/Keraton/Klasik.

Tari tradisional kerakyatan, yaitu tari yang hidup dan berkembang di kalangan rakyat. Padajaman feodal di Indonesia ditandai dengan munculnya kerajaan Hindu pada sekitar tahun 400 M. Mulai saat itu di Indonesia terdapat dua golongan masyarakat yaitu golongan Bangsawan dan Raja sebagai golongan kaya dan berkuasa, serta golongan rakyat jelata. Tari yang hidup di kalangan rakyat sesuai dengan kehidupan sosial masyarakatnya, masih sederhana dan banyak berpijak warisan seni tradisional. Faktor alam serta lingkungan dan agama/kepercayaan, sangat berpengaruh terhadap bentuk-bentuk seni tarinya. Sehingga tari tradisional kerakyatan sangat beraneka ragam sesuai dengan kondisi rakyat, alam dan agama /kepercayaannya. Indonesia yang terdiri dari beberapa pulau juga terdiri dari beberapa suku bangsa serta etnik yang berbeda-beda, menimbulkan tumbuh dan berkembangnya aneka ragam kehidupan seni tari kerakyatan yang memiliki kekhasan sesuai dengan kondisi daerahnya.

Tari tradisional Keraton/Bangsawan/Klasik, adalah tari yang semula berkembang di kalangan kerajaan dan bangsawan, telah mencapai kristalisasi artistik yang tinggi dan telah menempuh perjalanan sejarah yang cukup panjang sehingga memiliki pula nilai tradisional. Tetapi tari tradisional belum tentu bernilai klasik, sebab tari klasik selain mempunyai ciri tradisional harus pula memiliki nilai artistik yang tinggi. Istilah klasik berasal dari kata Classici, yaitu nama golongan masyarakat yang paling tinggi pada jaman Romawi Kuno.

Tatanan kehidupan masyarakat keraton/bangsawan yang memiliki sumber daya manusia yang memiliki intelektual yang tinggi serta daya ekonomi dan kekuasaan yang tinggi pula, maka kehidupan seni tari ini mengarah kepada garapan yang mantap dalam segala segi artistiknya. Hal ini terjadi karena seni tari yang berkembang di istana mendapat naungan dari raja dan para bangsawan. Seperti halnya pada tari kerakyatan, seni tari yang hidup di kalangan istana, sangat dipengaruhi pula oleh faktor alam/lingkungan, agama/kepercayaan serta etniknya, sehingga masing-masing etnik/kedaerahan memiliki ciri-ciri yang berbeda, menimbulkan pula kekayaan/keaneka ragaman bentuk-bentuk tari di Indonesia. Sebagai bukti bisa kita lihat kehidupan tari di daerah-daerah yang memiliki peninggalan-peninggalan keraton dan kehidupan seni tarinya masih terpelihara seperti sisa-sisa kerajaan di Pulau Jawa, Bali, Sumatera dan lain-lain.

Di Jawa Barat/Pasundan pernah juga dihidupi oleh kerajaan-kerajaan seperti kerajaan Banten, Cirebon, Sumedang, Galuh dan sebagainya, akan tetapi dikarenakan kehidupan kerajaannya sudah lama punah (kecuali Cirebon), sehingga peninggalan kehidupan seni tarinya pun turut terbawa punah pula. Bahkan Kerajaan Cirebon yang sampai sekarang masih ada, kehidupan seni tarinya kurang/tidak terlestarikan, walaupun ada tari topeng Cirebon yang konon berasal dari lingkungan keraton Cirebon, bahkan berkembangnya justru berada di lingkungan rakyat. Paling yang memberikan warna kepada kehidupan seni tari di Jawa Barat/ Pasundan ialah para keturunan kerajaan (bangsawan/menak) yang banyak berkreativitas dalam seni tari, sehingga muncul tari-tarian pertunjukan seperti: tari Keurseus dan tari Wayang.

2. Tari Kreasi
Yang dimaksud dengan tari kreasi di sini adalah suatu bentuk garapan/karya tari setelahnya bentuk-bentuk tari tradisi hidup berkembang cukup lama di masyarakat. Bentuk tarian ini bermunculan sebagai ungkapan rasa bebas, mulai ada gejalanya setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945. Kebebasan ini mendorong pula kreativitas para seniman tari, setelahnya melihat/merasakan ada perubahan jaman dalam kehidupan masyarakatnya dan menjadikan motivasi untuk membuat karya-karya baru memenuhi kebutuhan jamannya. Pada tahun 1950-an pembaharuan karya tari mulai diperkenalkan oleh Wisnu Wardana dan Bagong Kusudiarjo di Jawa Tengah, sedangkan di Bali dirintis oleh I Mario pada tahin 1920-an. Di Jawa Barat pada jaman sebelum perang muncul pula tokoh pembaharu karya tari yaitu: R. Tjetje Somantri, dan pada awal tahun 1980-an muncul pula tokoh pembaharu karya tari yang bertolak dari pola-pola tari tradisi rakyat, dikenal dengan sebutan tari Jaipongan yaitu Gugum Gumbira Tira Sonjaya. Apalagi setelahnya muncul lulusan-lulusan pendidikan formal seni tari seperti SMKI, STSI, UPI, ISI, IKJ, pertumbuhan tari kreasi sangat berkembang tambah maju baik dari segi kwalitas maupun kwantitas.

Pada garis besarnya tari kreasi dibedakan menjadi dua golongan yaitu:
1. Tari kreasi baru berpolakan tradisi, yaitu tari kreasi yang garapannya dilandasi oleh kaidah-kaidah tari tradisi, baik dalam koreografi, musik/karawitan, rias dan busana, maupun tata teknik pentasnya.. Walaupun ada pengembangan tidak menghilangkan esensi ketradisiannya.
2. Tari kreasi baru tidak berpolakan tradisi (non tradisi), tari kreasi yang garapannya melepaskan diri dari pola-pola tradisi baik dalam hal koreografi, musik, rias dan busana, maupun tata teknik pentasnya. Walaupun tarian ini tidak menggunakan pola-pola tradisi, tidak berarti sama sekali tidak menggunakan unsur-unsur tari tradisi, mungkin saja masih menggunakannya tergantung pada konsep gagasan penggarapnya. Tarian ini disebut juga tari modern, yang istilahnya berasal dari kata Latin “modo” yang berarti baru saja.

Agar lebih jelas lagi tentang kekayaan tari berdasarkan konsep dan orientasi garapnya, secara singkat dapat dilihat pada bagan di bawah ini:
KONSEP DAN ORIENTASI GARAP
TARI TRADISI
TARI KREASI
NON POLA TRADISI
TRADISI KERATON - BANGSAWAN
POLA TRADISI
TRADISI KERAKYATAN




Kekayaan Tari Berdasarkan Tema

Perlu dipahami terlebih dahulu bahwa dalam tari terdiri dari dua unsur yang bisa dikomunikasikan dengan penontonnya, yaitu unsur yang dilihat (visual) melalui ungkapan tatanan gerak (koreografi) secara fisik (ragawi), dan unsur yang dirasakan melalui penghayatan perasaan dan imajinasi yang ekspresikan penari tentang hal isi yang dikandung oleh tarian itu.Yang dimaksud dengan tema di dalam tari ialah kandungan isi ungkapan koreografi yang sesuai dengan konsep garapannya.

Berdasarkan tema yang digarap, komposisi tari dapat dibedakan antara yang diolah berdasarkan tema literer dan non literer. Komposisi tari literer adalah komposisi tari yang digarap dengan tujuan untuk menyampaikan pesan-pesan seperti : ceritera, pengalaman pribadi, interpretasi karya sastra, dongeng, legenda, ceritera rakyat, sejarah dan sebagainya. Sedangkan komposisi tari non literer adalah komposisi tari yang semata-mata diolah berdasarkan penjelajahan dan penggarapan keindahan unsur-unsur gerak: ruang, waktu dan tenaga. Bentuk yang kedua ini dapat digarap berdasarkan pengembangan berbagai macam aspek: interpretasi (tafsiran) musik, penjelajahan gerak, eksplorasi permainan suara, permainan cahaya atau unsur-unsur estetis lainnya (Sal Murgiyanto, 1986: 123).

Dengan penjelasan di atas, tari-tarian itu ada yang mengandung tema literer dan non literer. Kiranya hal ini masih perlu diberi penjelasan kembali disesuaikan dengan kondisi kehidupan tari yang ada, dan untuk penjelasannya bisa dilihat contoh pada tabel di bawah ini:

NO.
NAMA TARI
LITERER
NON LITERER
ISI TEMA
1.
Gawil,Kawitan,Lenyepan
-
v
Interpretasi lagu
2.
Gatotgaca,Baladewa
v
-
Interpretasi tokoh
3.
Sulintang,Katumbiri
v
-
Interpretasi alam
4.
Polostomo,Geboy
-
v
Interpretasi lagu
5.
Kandagan
v
-
Interpretasi kiasan
6.
Merak,Kijang,Kukupu
v
-
Interpretasi binatang
7.
Tumenggung,Badaya
v
-
Interpretasi jabatan
8.
Puja,Tarawangsa,Ngarot
v
-
Interpretasi ketuhanan
Untuk memperkaya lagi wawasan tari berdasarkan temanya persilakan analisa dan klasifikasikan bentuk-bentuk tarian yang lainnya. Dengan demikian tema literer yang terkandung dalam tari terdiri dari : ketuhanan, kemanusiaan, alam dan binatang, dang ungkapan isinya tentang erotik (percintaan/kebirahian), heroik (kepahlawanan), pantomimik (peniruan) dan komikal (komedi).

Kekayaan Jenis Tari Berdasarkan Jenisnya

Kekayaan tari berdasarkan jenisnya mengarah kepada penggolongan tari menurut konsep penggarapan koreografinya, yang terdiri dari: Tari Putri, Tari Putra dan campuran Putri dan Putra.
Tari Putri, yaitu bentuk tari menurut konsep penggarapan tema dan koreografinya tentang kondisi putri/wanita, dan biasanya dilakukan oleh putri/wanita.
Tari Putra, yaitu bentuk tari menurut konsep penggarapan tema dan koreografinya tentang kondisi putra/laki-laki, dan biasa dilakukan tidak hanya oleh laki-laki/putra saja, akan tetapi bisa pula dilakukan oleh kaum wanita (travesti)
Tari campuran Putra dan putri, yaitu bentuk tari menurut konsep penggarapan tema dan koreografinya tentang putra dan putri yang ditata secara terpadu dan harmonis, biasa dilakukan oleh wanita untuk konsep tari putrinya, dan dilakukan oleh laki-laki atau bisa pula oleh perempuan untuk konsep tari putranya.

Pada tabel di bawah ini bisa dilihat beberapa contoh kekayaan tari yang di kelompokan berdasarkan jenisnya:
NO
GENRE
JENIS
TRADISI PELAKU
1.
Tari Keurseus
Putra
Laki-laki
2.
Tari Wayang Putri
Putri
Perempuan
3.
Tari Wayang Putra
Putra
Laki-laki-Perempuan
4.
Tari Topeng Cirebon
Putra
Laki-laki-Perempuan
5.
Tari Topeng Priangan Putra
Putra
Laki-laki- Perempuan
6.
Tari Kreasi Tjetje Somantri
Putri
Perempuan
7.
Tari Pencak Silat
Putra&Putri
Laki-laki- Perempuan
8.
Tari Jaipongan
Putra& Putri
Laki-laki- Perempuan
9.
Tari Ketuktilu
Putra&Putri
Laki-laki- Perempuan


















DAFTAR PUSTAKA

Atik Soepandi, Enoch Atmadibrata, Khasanah Kesenian Jawa Barat, Pelita
Masa, 1977.
Edi Sediawati,dkk. Pengetahuan elementari dan Beberapa Masalah Tari,
Direktorat Kesenian, Proyek Pengembangan Kesenian Jakarta
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1986.
Endang Caturwati, Tari di Tatar Sunda, Sunan Ambu Press STSI Bandung,
2007.
Her Bert Read, Pengertian Seni, Terjemahan Soedarso SP, Sekolah Tinggi Seni
Rupa Indonesia, Yogyakarta, 1973.
I. Gusti Agung Ngurah Suparta SST, dkk. Pengantar Pengetahuan Tari,
Subhadaya, Surabaya, 1982.
Iyus Rusliana, Aspek Manusia Dalam Tari, Aspek Manusia Dalam Seni
Pertunjukan, Editor Arthur S.Nalan, STSI Press, Bandung
1997.
Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, PT.Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta, 1992.
Muhibbin Syah, M.Ed, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru,
PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006.
Risman Suratman, Modul Pengetahuan Tari II, (tidak diterbitkan), SMKN 10
Bandung, 2004.
Sudarsono, Tari-Taraian Indonesia I, Proyek Pengembangan Media
Kebudayaan, Direktorat Jendral Kebudayaan, Jakarta.
---------------------, Djawa dan Bali Dua Pusat Perkembangan Dramatari
Tradisional di Indonesia, Gajahmada University Press,
Yogyakarta, 1972.
---------------------, Pengantar Pengetahuan dan Komposisi Tari, Akademi Seni
Tari Indonesia , Yogyakarta , 1978.
Yulianti Parani, Diktat Sejarah Tari Umum, Lembaga Pendidikan Tinggi
Kesenian , Jakarta 1972.